Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad
-Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-

Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin -semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita bersama pada perkara yang Dia cintai dan Dia ridhai-, sesungguhnya Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- memiliki banyak hak atas kita selaku ummatnya. Dan termasuk hak beliau yang terbesar adalah harusnya kita mencintai beliau dengan kecintaan yang tulus, karena kecintaan kepada beliau adalah tanda kesempurnaan iman. Beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda dalam hadits Anas bin Malik -radhiallahu anhu-:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai saya menjadi lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”. (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)
Imam Ibnu Baththal -rahimahullah- berkata, “Makna hadits ini adalah barangsiapa yang telah sempurna keimanannya, maka dia tentu mengetahui bahwa hak Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- lebih wajib atas dirinya daripada hak ayahnya, anaknya, dan manusia seluruhnya. Karena dengannyalah kita terselamatkan dari neraka dan diberikan hidayah menjauh dari kesesatan”. (Syarh Muslim (2/205) karya An-Nawawi -rahimahullah-.)
Bahkan Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah bersabda kepada Umar ibnul Al-Khaththab -radhiallahu anhu- tatkala Umar berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling saya cintai di atas segala sesuatu kecuali atas diriku”, maka beliau bersabda, “Tidak -demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya- sampai saya menjadi yang paling engkau cintai walaupun atas dirimu sendiri”. Lalu Umarpun berkata, “Sesungguhnya sekarang -demi Allah- sungguh engkau lebih saya cintai daripada diri saya sendiri”. Maka Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda, “Sekarang wahai Umar”.(HR. Al-Bukhari no. 6257 dari Abdullah bin Hisyam )
Oleh karena itulah, Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menunaikan hak beliau ini dalam firman-Nya, “Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”(QS. At-Taubah : 24)
Maka dengan ini, Allah menghukumi orang-orang yang mendahulukan kecintaan terhadap dunia dibandingkan kepada Rasul sebagai orang yang fasik.

Ini adalah hak beliau dari satu sisi. Dari sisi yang lain beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- sungguh telah memperingatkan kita akan bahayanya sikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstrim dalam mencintai dan menuji beliau, sehingga mengangkat beliau melebihi derajat yang Allah Ta’ala tempatkan beliau padanya. Beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah menegaskan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Waspada kalian dari ghuluw (bersikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstrim) dalam beragama karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian kecuali karena ghuluw dalam beragama”. (HR. An-Nasa`i no. 3057 dan Ibnu Majah no. 3029 dari Ibnu Abbas  dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1283)
Beliau juga bersabda, “Jangan kalian berbuat ithra` (bersikap berlebihan, melampaui batas, dan ekstim) dalam memujiku sebagaimana kaum Nashrani berbuat ithra` dalam memuji (Isa) Ibnu Maryam. Karena sesungguhnya saya tiada lain kecuali adalah hamba-Nya, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 3261, 6442 dari Umar -radhiallahu anhu-)
Dan beliau telah mengingatkan para sahabatnya tatkala ada tanda-tanda ghuluw dalam memuji beliau. Sahabat Abdullah bin Asy-Syikhkhir -radhiallahu anhu- bercerita:

انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

“Saya pernah ikut dalam rombongan Bani ‘Amir menuju Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-. Lalu kami berkata, “Engkau adalah Sayyid kami”, maka beliau bersabda, “As-Sayyid adalah Allah -Tabaraka wa Ta’ala-.” Kami berkata, “(Engkau) yang paling utama di antara kami dan yang paling tinggi kedudukannya di antara kami”. Beliaupun bersabda, “(Silakan) ucapkan perkataan kalian -atau sebahagian perkataan kalian- dan jangan sampai setan mempermainkan kalian.” (HR. Abu Daud no. 4172 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Jami’ Ash-Shahih no. 3549)
Dalam riwayat Ahmad dari Anas bin Malik, “… Saya adalah Muhammd hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak senang kalian mengangkat saya melebihi derajat yang Allah Ta’ala telah tetapkan untukku”. 
Oleh karena itulah, beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- melarang ummatnya untuk menjadikan kuburan beliau sebagai id (tempat yang sering dikunjungi) karena khawatir kuburan beliau akan disembah:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (1) dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai id dan bershalawatlah kepadaku (2) karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada”. (HR. Abu Daud no. 1746 dari Abu Hurairah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Tahdzirus Sajid hal. 97)
Bahkan beliau di akhir hidupnya telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka ini telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid disebabkan ghuluw dalam mencintai dan mengagungkan mereka:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid”. (HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 529, 531 dari Aisyah -radhiyallahu anha- dan semisal dengannya hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari no. 426 dan Muslim no. 530)
Beginilah Nabi menuntun kita dalam mencintai diri beliau, karena beliau adalah nabi yang diutus untuk menegakkan syari’at Allah serta mendakwahkan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk berkata, “Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepada kalian dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan”. Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungi diriku dari (azab) Allah dan aku sama sekali tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.”(QS. Al-Jin : 21-22)
Beliau juga diperintah untuk mengatakan, “Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf : 188)
Ketika ada orang yang berkata kepada beliau, “Apa yang Allah kehendaki dan (3) yang engkau kehendaki wahai Rasulullah,” beliau langsung menegur orang tersebut dengan keras:

أَجَعَلْتَنِي وَاللَّهَ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

“Apakah engkau hendak menjadikan saya sebagai tandingan untuk Allah ?!, bahkan hanya apa yang Allah kehendaki saja”. (HR. Ahmad no. 1742, 1863, 2430, 3077 dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhu- dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 139, 1093)

Kemudian, ketahuilah -semoga Allah merahmati kita bersama-, sesungguhnya kecintaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- memiliki tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran cinta tersebut. Karena kecintaan kepada beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bukanlah diukur dengan pengakuan dan ucapan belaka akan tetapi harus ada tindakan-tindakan yang membenarkan pengakuan tersebut agar seseorang tidak dianggap berdusta dalam pengakuannya tersebut. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penya`ir:
“Setiap orang mengaku punya hubungan dengan si Laila, akan tetapi Laila tidak mengakui hubungan tersebut”.

Maka di antara tanda-tanda tersebut adalah:
1.    Berpedoman kepada beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua perkataannya, melaksanakan semua perintahnya, menjauhi semua larangannya, dan berakhlak sesuai dengan akhlaknya. Semua perkara tersebut dilakukan baik dalam keadaan senang maupun susah, baik ketika semangat maupun ketika tidak bersemangat.
2.    Lebih mendahulukan dan mengutamakan syari’at beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- di atas hawa nafsunya dan keinginan syahwatnya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr : 9)
3.    Memperbanyak mengingat dan bershalawat kepada beliau khususnya ketika nama beliau disebut dengan shalawat-shalawat yang beliau sendiri telah ajarkan, bukan dengan shalawat-shalawat buatan yang kebanyakannya berisi ghuluw (sikap ekstrim dan berlebihan), bid’ah bahkan kesyirikan.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab : 56)
Beliau -Shallallahu alaihi wasallam- sendiri telah bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Kecelakaan bagi seseorang yang mendengar namaku disebut di sisinya, lantas dia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. At-Tirmidzi no. 3545 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3510)
4.    Mencintai siapa saja yang mencintai beliau -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, mencintai keluarga beliau, dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta memusuhi siapa saja yang memusuhi mereka.
Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa Dia meridhai para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dalam firman-Nya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah : 100)
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- juga telah bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Jangan kalian mencerca para sahabatku, jangan kalian mencerca sahabatku. Karena -demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya- seandainya salah seorang di antara kalian memiliki satu gunung Uhud emas lantas dia menginfakkannya di jalan Allah maka tidak akan setara dengan sedekah satu mudd dari mereka (para sahabat) dan tidak pula setengahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2541 dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dan Muslim no. 2540 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Beliau juga bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada yang mencintai mereka kecuali mukmin dan tidak ada yang membenci mereka kecuali munafik. Siapa saja yang mencintai mereka, maka Allah akan mencintainya dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah akan membencinya”. (HR. Al-Bukhari no. 3572 dan Muslim no. 75 dari Al-Barra` bin Azib -radhiallahu anhu-)
5.    Membenci siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi siapa saja yang memusuhinya, serta menjauhi siapa saja yang menyelisihi sunnahnya dari kalangan para pelaku bid’ah dan orang-orang yang lebih mementingkan perkara-perkara yang menyelisihi syari’at beliau.
Allah Ta’ala berfirman, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah : 22)
6.    Mencintai Al-Qur`an dan sunnah yang diturunkan kepada beliau serta mengamalkan sesuatu  yang dikandung oleh keduanya.
Imam Sahl bin Abdullah At-Tasturi -rahimahullah- berkata, “Tanda mencintai Allah adalah dengan mencintai Al-Quran. Tanda mencintai Al-Qur`an adalah mencintai Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam. Tanda mencintai Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- adalah mencintai sunnah. Tanda mencintai sunnah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia. Tanda membenci dunia adalah dengan tidak mempersiapkan apapun dari dunia kecuali bekal dan pengantar menuju akhirat”. (Disadur melalui Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 193.)

Berikut sekilas di antara kisah-kisah mereka yang menunjukkan kesempurnaan cinta mereka kepada Nabi mereka -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dan bahwa kecintaan mereka bukan sekedar pengakuan lisan semata:
1.    Tatkala Allah Ta’ala menurunkan kepada Nabi-Nya syari’at perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Penduduk Quba’ ketika itu sedang melaksanakan shalat shubuh menghadap ke Baitul Maqdis karena khabar perpindahan kiblat belum sampai kepada mereka. Maka datanglah seorang lelaki seraya meneriaki mereka -sedang mereka dalam keadaan shalat-, “Sesungguhnya tadi malam telah diturunkan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- (Al-Qur`an) dan beliau telah diperintahkan untuk menghadap ke Ka’bah maka menghadaplah kalian ke arah Ka’bah”. (HR. Al-Bukhari no. 395, 4220, 4223, 6824 dan Muslim no. 526 dari Ibnu Umar -radhiallahu anhuma-)
Mereka pun berputar ke arah Ka’bah dalam rangka menerapkan perintah Rasulullah, teladan mereka -Shallallahu alaihi wasallam-.
2.    Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- beliau berkata:

إِنِّي لَقَائِمٌ أُسْقِيْهَا أَبَا طَلْحَةَ وَأَبَا أَيُّوْبَ وَرِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِنَا. إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: هَلْ بَلَغَكُمُ الْخَبَرَ؟ قُلْنَا: لاَ. قَالَ: فَإِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. فَقَالَ: يَا أَنَسُ أَرِقْ هَذِهِ الْقِلاَلَ. فَمَا رَاجَعُوْهَا وَلاَ سَأَلُوْا عَنْهَا بَعْدَ خَبَرِ الرَّجُلِ

“Sungguh saya pernah memberi minum khomer (minuman keras) kepada Abu Tholhah, Abu Ayyub dan beberapa sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- yang lain di rumah saya. Lalu tiba-tiba datanglah seorang lelaki seraya berkata, “Apakah belum sampai kepada kalian kabar?”, kami berkata, “Belum”, dia berkata, “Sesungguhnya khomer telah diharamkan”. Maka (Abu Tholhah) berkata (kepadaku), “Wahai Anas, tumpahkanlah gentong-gentong (khomer) ini”. Maka mereka tidak pernah kembali dan tidak pernah lagi meminta khomer setelah (mendengar) pengkhabaran laki-laki itu”. (HR. Al-Bukhari no. 4341 dan Muslim no. 1980)
3.    Ketika para sahabat sedang asyik merebus daging-daging keledai peliharaan pada perang Khaibar, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- menyuruh seorang penyeru untuk mengumumkan, “Tumpahkanlah bejana-bejana kalian dan janganlah kalian makan sedikitpun dari daging keledai (peliharaan)”.
Tatkala pengumuman ini sampai ke telinga para sahabat, merekapun menumpahkan panci-panci mereka yang ketika itu sedang mendidih berisi daging-daging keledai. (HR. Al-Bukhari no. 2986, 3963,  dan Muslim no. 1937 dari Abdullah bin Abi Aufa -radhiallahu anhu-)
4.    Suatu hari Anas bin Malik pernah shalat di belakang Umar bin Abdul Aziz -rahimahullah-. Tatkala selesai shalat -dan melihat bagaimana Umar menerapkan sunnah dalam shalatnya- beliau berkata, “Saya tidak pernah shalat di belakang seorang pun setelah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- daripada anak muda ini”. (HR. Abu Daud no. 888, An-Nasa`i no. 1135 dan dalam Al-Kubra no. 721 dari Anas dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i no. 938)
Karena sangat dalamnya pengaruh kecintaan mereka kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-, sampai-sampai mereka memuji setiap orang yang meniru dan menerapkan sunnah Nabi mereka -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
5.    Dari Abdullah Ibnu Umar -radhiallahu anhu- beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda:

إِذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمُ امْرَأَتُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا

“Jika istri salah seorang di antara kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid maka janganlah dia melarangnya”.
Lalu berkatalah anak beliau (Ibnu Umar) yang bernama Bilal, “Demi Allah, kami akan melarang mereka”. Perawi berkata, “Maka Abdullah pun menghadap kepadanya lalu mencercanya dengan cercaan yang saya tidak pernah dengar dia mencercanya seperti itu sebelumnya. Beliau berkata, “Saya menceritakan (sebuah hadits) kepadamu dari Rasulullah, tapi kamu mengatakan, “Kami akan melarang mereka?!” (HR. Al-Bukhari no. 835 dan Muslim no. 442, tapi kisahnya hanya dalam riwayat Muslim)
6.    Ada di antara para sahabat yang pernah memakai cincin dari emas. Lalu Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- mengambilnya dan membuangnya seraya bersabda:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَيَجْعَلَهَا فِي يَدِهِ

“Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja mengambil bara dari neraka lalu dia letakkan di tangannya”.
Kemudian dikatakan kepada lelaki tersebut, “Ambillah cincinmu.” Dia pun berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mengambil barang yang telah dilemparkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-”. (HR. Muslim no. 2090 dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma-)
7.    Dari Abis bin Rabiah, beliau berkata, “Saya melihat Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu- mencium Hajar Aswad seraya berkata:
“Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mampu mendatangkan bahaya. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- menciummu, maka saya juga tidak akan menciummu”. (HR. Al-Bukhari no. 1520, 1528 dan Muslim no. 1270)

Wallahul musta’an.

[Rujukan: Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 189-194]
_________
(1) Maksudnya: Kalian tidak pernah melaksanakan shalat sunnah dan membaca Al-Qur`an di rumah sehingga rumah kalian mirip dengan kuburan yang tidak boleh shalat dan membaca Al-Qur`an di situ.
(2) Yakni : Kalian tidak perlu datang ke kuburanku hanya dengan alasan untuk bershalawat kepadaku.
(3) Kata “dan” menunjukkan penggabungan dan penyetaraan.

Related posts:

  1. Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah
  2. Muhammad Hamba Allah dan Rasul-Nya