Keutamaan Menziarahi Kubur Nabi
-Shallallahu alaihi wasallam-

“Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji ke Ka’bah lalu dia tidak menziarahi aku maka dia telah berbuat kasar kepadaku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi (7/2480), Ibnu Hibban dalam Adh-Dhuafa` (2/73) dan dari jalannya, Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhuat (2/217). Semuanya dari jalan Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man bin Syabl dari kakeknya dia berkata: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’.
Ash-Shaghani membawakan hadits ini dalam Al-Ahadits Al-Maudhuah hal. 6 dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Maudhuah hal. 42. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan (3/237), “Hadits ini palsu.”
Cacat hadits ini adalah Muhammad bin An-Nu’man ini, Ibnu Al-Jauzi berkata tentang orang ini, “Dia meriwayatkan dari rawi-rawi tsiqah, hadits-hadits yang sangat jelek dan meriwayatkan dari rawi-rawi yang kuat hafalannya, hadits-hadits yang maqlub (terbalik).” Ad-Daraquthni berkata, “Cacat dalam hadits ini adalah Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man.”
[Diringkas dari Adh-Dhaifah (1/119/no. 45) karya Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah-]

Hadits kedua:

“Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji lalu dia menziarahi kuburku setelah kematianku, maka dia bagaikan orang yang mengunjungiku ketika aku masih hidup.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (3/203/2), Ad-Daraquthni (hal. 279) dan Al-Baihaqi (5/246), semuanya dari jalan Hafsh bin Sulaiman Abu Amr dari Al-Laits bin Abi Sulaim dari Mujahid dari Abdullah bin Umar secara marfu’.
Sanad hadits ini dhaifun jiddan (lemah sekali) karena di dalamnya ada dua cacat:
1. Laits bin Abi Sulaim adalah rawi yang lemah karena hafalannya telah rusak di akhir hidupnya.
2. Hafsh bin Sulaim ini adalah Al-Qari`. Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).” Bahkan Ibnu Main berkata, “Dia adalah seorang pendusta.”

[Diringkas dari Adh-Dhaifah (1/120/no. 47) karya Al-Albani -rahimahullah-]